Angin pantai meniup keras, menerbangkan desah yang ditampung berat. Mentari petang perlahan-lahan ditelan langit yang terbentang. Garis pemisah antara lautan dan langit terlihat jelas. Biru pekat, biru cerah, biru muda, indah sungguh calitan warna yang dianugerahkan alam. Kicauan burung pulang ke sarang meriuahkan kesunyian.

“Ia menciptakan langit dengan tidak bertiang sebagaimana yang kamu melihatnya; dan Ia mengadakan di bumi gunung-ganang yang menetapnya supaya bumi itu tidak menghayun-hayunkan kamu; dan Ia biakkan padanya berbagai jenis binatang. Dan Kami menurunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan di bumi berbagai jenis tanaman yang memberi banyak manfaat.

Ini (semuanya adalah) ciptaan Allah, maka cubalah kamu tunjukkan kepadaKu apakah yang telah diciptakan oleh makhluk-makhluk yang lain daripadaNya (yang kamu sembah itu)? (Tidak ada sesuatu pun) bahkan orang-orang yang zalim (dengan perbuatan syiriknya) itu berada dalam kesesatan yang jelas nyata.”

(Surah Luqman)

Ombak berhempas mendinginkan kaki yang kelelahan berlari di belantara kapitalis, nun di kotaraya yang makin hari makin dicemarkan kerakusan manusia bertuhankan haloba.

20160712_191307

Awan putih ibarat gula-gula kapas tadi mulai menipis. Gelap malam makin pekat. Azan berkumandang, menyeru Jemaah ke rumah Allah, bertemu Pencipta menyambut malam yang tiba.

Ada masanya, kepayahan menghirup udara harapan di celah-celah kegawatan pencemaran ruhani, menyesakkan dada yang sempit oleh noda yang dipalit tangan sendiri, terasa betapa hinanya diri sehingga tak mampu mengangkat muka pun untuk memanjatkan doa. Ada suara jahat akan membisik, “sekali pendosa, selamanya pendosa”. Manusia, dia akan selalu rasa diperhatikan. Barangkali itu fitrah. Kerana sememangnya ada yang memerhati. Apabila terlalu banyak jatuh ke dalam lubang dosa, keadaan terasa serba tak kena, diri rasa dilihat dengan pandangan murka oleh Sang Kekasih. Putus asa.

Di sudut yang lain, ketika iman di puncak, setelah hempas pulas yang dijalani akhirnya melahirkan kekuatan yang tak pernah dibayangkan. Ibadat dilaksanakan tanpa jemu, zikir membasahi lidah, bibir kumat-kamit merutinkan ayat Al-Quran. Semuanya terasa sempurna. Hingga kadang-kadang, mengasingkan diri dari masyarakat yang dilihat sakit adalah satu kemestian yang menghukum makhluk Tuhan yang lain, bahkan merampas ruang yang bukan hak. Datanglah suara yang membelai-belai ego diri, “Tuhan pasti sedang melihatku dengan penuh redha”. Zon selesa.

Lalu, harus apa?

 

Titik temu.

Imam Ali as pernah mengatakan, yang membawa pengertian: “Maksiat yang mendekatkan diri kepada Allah lebih baik dari amal kebaikan yang membuatmu angkuh”

Hidup adalah pencarian titik temu yang menyeimbangkan perasaan yang sering melampau batasan.

Sederhana.

Tak mudah. Benar. Apa lagi ketika dunia dihimpit fitnah akhir zaman yang mencabar pencarian makna, kekeliruan yang leluasa merajai suasana, kelam kelabu meskipun di sekitar taman yang dikatakan taman ilmu syurgawi.

Jubah putih berlilit serban bukan jaminan, tudung labuh meredupkan pandang juga bukan jaminan, koleksi kitab dan makalah bukan sandaran, skrol pengijazahan juga gagal membuktikan. Maka pencarian kebenaran adalah perjuangan.

Justeru, jangan berhenti berdoa. Kerana tidak ada senjata yang lebih ampuh berbanding kuasa doa.

 

20160708_191159

Siapa lagi yang lebih mengetahui dan berkuasa untuk memberi tahu melainkan Pemilik Ilmu Zahir dan Batin?

Taruhkan sekelumit syak wasangka pada diri. Ketuk dengan penukul tanya yang menundukkan lutut  ke bumi.

..bersambung..