Mengetahui bermula dari ragu-ragu

Ada watak yang setiap masa berbicara tentang Allah, mengakui merasaikan kehadiran Allah dalam setiap tindak tanduknya, tetapi masih wenang-wenang meninggi diri dan menjatuhkan malah mengambil hak makhluk Allah yang lain. Menghukum seolah-olah mengetahui segala-galanya. Hanya kerana merasa diri dekat dengan Allah.

Jadi, cukupkah dengan banyaknya perkataan ‘Allah’, ‘perjuangan’, ‘Islam’ dan sewaktu dengannya dalam kosakata harian sebagai kayu ukur keimanan seorang muslim?

Bukankah lebih utama dari sebutan lahiriah itu adalah sejauh mana ingatan dan bicara itu membuat kita sedar akan kelemahan diri sebagai hamba, dan membawa keharmonian kepada dunia?

shadow-world

Masih ingat kisah pembunuh 100 jiwa yang dinukilkan dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim?

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Kerana sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat.”

 

Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang dia.

 

Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”

 

Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”

 

Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia (sebagai hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka kata malaikat itu: “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”

 

Lalu keduanya mengukurnya, dan ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.

Kata rawi: Kata Qatadah: Al-Hasan mengatakan: “Disebutkan kepada kami, bahwa ketika kematian datang menjemputnya, dia busungkan dadanya (ke arah negeri tujuan).”

Perhatikan dua watak yang berbeza dalam kisah tadi.

Ujian tanda sayang

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan bagimu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada siapa yang dapat menolak kurniaanNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada sesiapa yang dikehendakinya di antara hamba-hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(Surah Yunus:107)

Kata Az-Zamakhsyari dalam sebuah syair yang dinukilkan Dr ‘Aidh Abdullah Al-Qarni melalui buku beliau, La Tahzan:

Perputaran roda kehidupan 

telah melemparkan dalam kesulitan

namun itu lebih menyenangkan 

sebab aku terus belajar menyelesaikan masalah

Allah panggil kita untuk dekat dengan Dia, maka Dia turunkan keburukan yang cuma Dia mampu hilangkan, bukan sebab Dia benci kita.

Kalau Dia benci, Dia tak panggil kita, kan?

Sekalipun keburukan itu adalah kemaksiatan ataupun dosa yang berulang-ulang, bukankah Allah SWT telah berjanji akan mengampunkan?

heart-remembrance
Kerana yang pertama perlu diingatkan ialah hati dan bukan lidah